Analisis Novel "Dilan 1991"

 
Identitas Buku

  • Judul Buku : Dilan Bagian Ke-2 : Dia adalah Dilan Ku Tahun 1991
  • Penulis          : Pidi Baiq
  • Penerbit          : Pastel Books
  • Cetakan          : XVI, Bandung
  • Jumlah halaman : 344 Halaman
  • Tahun terbit : 2016
  • Tebal buku : 19 mm
  • Ukuran buku          : 205 x 140 mm
  • Nomor ISBN : 978-602-7870-99-4


Sinopsis
Novel kedua ini merupakan lanjutan dari novel pertama, jika di novel pertama bercerita mengenai masa Milea bertemu Dilan dan proses Milea bisa menyukai dan dekat dengan dilan. Di novel kedua bercerita mnegenai masa mereka berdua ketika sudah jadi pacar yang dinyatakan dengan lisan dan tulisan bermaterai.
Milea pun kembali bercerita tentang kisah percintaannya dengan Dilan. Seperti orang yang baru jadian pada umumnya, Milea mengalami masa yang indah di SMA sesudah resmi jadi pacar Dilan. Ketika guyuran hujan menerpa, Dilan menggunakan motor CB dengan Milea di belakangnya. Mereka berdua jalan-jalan menyusuri Jl. Buahbatu sembari ketawa riang, itu semua berkat Dilan yang selalu membuat hari-hari Milea bahagia.
Jawaban yang diberikan Dilan selau saja membuat Milea tersenyum, dilan pun termasuk orang yang cerdas dan pintar di kelasnya, buktinya dia selalu mendapatkan rangking satu atau dua. Meski Milea merasa khawatir dengan Dilan yang bergabung dengan geng motor, karena Milea takut terjadi hal yang buruk menimpa Dilan karena geng motor.

Unsur Ekstrinsik

  • Biografi penulis

Pidi Baiq, seorang pengarang yang mengaku sebagai imigran dari surga yang diselundupkan oleh ayahnya ke bumi dikamar pengantin yang tegang. Pendiri group band “The Panasdalam”. Lahir di Bandung, 8 Agustus 1972. Membuat akun Twitter dengan nama @pidibaiq dan selalu merahasiakan password-nya sampai sekarang.


  • Nilai yang terkandung dalam novel

Nilai Pendidikan
Novel ini mengajarkan kita untuk menghargai setiap karya orang lain. Seperti yang Dilan katakan, tak ada karya jelek, selama karya itu bukan hasil plagiat.

Nilai Moral
Walaupun Dilan adalah anak yang sering berkelahi, bahkan sering di skors dari sekolah, namun Dilan digambarkan sebagai orang yang menghormati orang tua, dia sangat menghormati Bi Eem, Mak Asih, bahkan walikelas yang sering menegurnya saat dia salah.

Nilai Sosial
Kelompok geng motor memiliki kesan yang buruk dalam pikiran masyarakat, tapi Dilan pada kenyataannya sangat disenangi banyak orang dan mempunyai banyak teman. Semua itu karena Dilan dikenal sebagai orang yang setia kawan dan sopan pada orangtua.

Unsur Instrinsik
Judul Novel : “Dilan Bagian Ke-2 : Dia adalah Dilanku Tahun 1991”
Tema
Tema dalam novel Dilan bagian ke 2 : Dia adalah Dilanku Tahun 1991 menceritakan tentang Dilan dan Milea ketika mereka mulai berpacaran sampai mereka menjalani kehidupannya masing masing.

Tokoh

  • Protagonis
    • Milea 
    • Dilan
    • Ibu Milea
    • Ayah Milea
    • Airin
    • Si Bibi
    • Bunda Dilan
    • Ayah Dilan
    • Disa
    • Bang Fariz
    • Wati
    • Rani
    • Piyan
  • Antagonis
    • Beni
    • Yugo
    • Kang Adi
    • Anhar
    • Nandan
    • Susi
    • Suripto
  • Tritagonis
    • Bi Eem
    • Revi
    • Akew
    • Ibu Rini
    • Pak Dedi
    • Tante Anis
    • Burhan
    • Ibunya Anhar
    • Ibu Retno
    • Bowo 


Alur
Jenis Alur : Campuran


  • Tahapan Alur

Orientasi
Bab 1 : Aku

Aku Milea. Milea Adnan Husain. Jenis kelamin perempuan. Lahir di Jakarta, tanggal 10 Oktober 1972 dan sudah mandi.
Sekarang, waktu nulis buku ini, aku tinggal di kemang, di daerah Jakarta Selatan. Disebuah rumah dengan luas tanah 185 meter persegi dan luas bangunan 124 meter persegi. Tiga kamar tidur, dua kamar mandi, dan tidak dijual.
.... (Hal.13)

Generating Curcumtances
Bab 2 : Hari jadi
“Aku bisa berhentiin hujan,” Katanya.
“Caranya ?” Tanyaku sesaat setelah aku diam.
“Bentar,” Kata Dilan. Lalu dia berseru : “Berhenti, hei hujan!”
Kemudian, Dilan diam, menunggu hasilnya. Aku juga diam. ... (Hal.31)

Rising Action
Bab 7 : Dilan membalas
Tak lama dari tu, telpon berdering dan aku yang ngangkat. Itu adalah telepon dari piyan.
Piyan bicara sedikit agak gugup. Dia memberi kabar bahwa Dilan sudah tau siapa orang yang mengeroyoknya tempo hari di warung Bi Eem.
“Siapa?” kutanya.
“Kakak nya si Anhar”
“Oh,ya?!”
Dan kata Piyan, malam itu Dilan sudah berkumpul dengan kawan-kawannya untuk melakukan balas dendam.
... (Hal.141)

Climax
Bab 7 : Dilan Membalas
“Terserah mau ngomong apa. Pokoknya kalau kamu nyerang, aku gak mau ketemu kamu lagi!” kataku.
“Iya, kata siapa mau nyerang?” tanya Dilan dengan wajah yang mulai serius.
“Gak perlu tau dari siapa. Pokoknya aku sudah melarangmu!”
“Melarang apa ?” tanya Dilan.
“Melarang kamu balas dendam!”
“Aku bingung,” kata Dilan.
“Ikuti mauku!”
Dilan diam, memandangku.
“Ikuti mauku, jangan nyerang! Atau, kita putus!!!” kataku.
... (Hal.147)

Solution
Ada telepon umum tidak jauh dari situ, yaitu depan halaman gedung GGM (Gelanggang Generasi Muda). Aku langsung telepon kerumah Dilan sambil menangis, tetapi yang ngangkat Bi Diah dan katanya, dia baru mendapat telepon dari kepolisian bahwa: Dilan ditahan di kantor polisi!. (Hal.175)

Ending
Ketika akhirnya aku menikah dengan Mas Herdi. Aku tahu, pernikahan sudah membatsi diriku untuk tidak lagin masuk dalam kehidupan dirimu, tapi dalam kegembiraan itu, aku masih selalu ingat dirimu. (Hal.340)


Latar

  • Tempat : 

Sekolah
”Hari itu, disekolah, tidak ada kegiatan belajar karena guru-guru sedang rapat untuk persiapan pembagian rapor yang akan dilaksanakan pada hari selasa tanggal 26 Desember 1990.” (Hal. 80)

Warung Bi Eem
“dari warung Bi Eem aku kembali ke sekolah” (Hal.227)

Rumah Milea
“Di rumah, kudapati ibu sedang nelpon,airin sedang bermain nitendo, si bibi sedang nyetrika”. (Hal. 38)

Rumah Tante Anis
“Ketika tiba di rumah Tante Anis, aku melihat Ayah, Ibu dan Airin sedang ngobrol di teras rumah bersama Tante Anis dan yang lainnya”. (Hal. 128)

Rumah Bunda Dilan
“Ketika sudah sampai di rumah Bunda, kami masuk diiringi gonggongan anjing yang tetap duduk di kandangnya”. (Hal. 217)

Jalan BuahBatu
“waktu itu, tanggal 22 Desember 1990, sekitar pukul tiga sore, aku dan Dilan berdua naik motor menyusuri Jalan Buah Batu untuk mengantar aku pulang”. (Hal.28)

Jalan Banteng
“Setelah selesai dari Rumah Sakit Muhammadiyah, kami pulang, menyusuri Jalan Banteng yang dulu masih sepi”. (Hal. 84)

Jalan Burangrang
“Dari Jalan Sadakeling, Kami masuk ke jalan Burangrang, terus belok ke Jalan Gatsu (Gatot Subroto)”. (Hal. 114)

Jalan Gatot Subroto
“Ketika mulai turun gerimis, kami masuk ke jalan Gatsu, terus belok ke arah Jalan Malabar”. (Hal.115)

Trina
“Mereka sekarang lagi pada kumpul di Trina,” Kata Piyan. (Hal.141)

Gedung GGM
“Ada telepon umum tidak jauh dari situ, yaitu didepan halaman gedung GGM (Gedung Generasi Muda)”. (Hal.175)

Kantin Sekolah
“ Beberapa saat kemudian, kami berada didalam kantin karena acara pembagian rapor masih belum dimulai”. (Hal.198)

Mobil Bunda Dilan
“Aku pulang naik mobil Bunda”. (Hal.211)

Kantor Polisi
“Sepulang dari sekolah, setelah selesai menguruskan urusan Porseni, kira-kira pukul dua siang, aku langsung pergi ke Kantor Polisi untuk segera besuk Dilan”. (Hal.232)

Kantor
“Dikantorku, aku telepon ke Mas Herdi untuk mengatur rencana pergi ke acara ulangtahun anaknya pak samsu dan kami setuju untuk lebih baik pergi pakai satu mobil saja, yaitu mobilku, biar lebih simpel”. (Hal.325)


  • Waktu

Pagi hari
Hari Sabtu-nya, pagi-pagi, orang-orang dirumah pada sibuk dengan perbuatannya masing-masing. (Hal.75)
Ketika aku bangun pada pagi hari, pikiranku langsung dipenuhi oleh peristiwa semalam dengan Dilan. (Hal.157)



Siang hari
Sepulang dari sekolah, setelah menyelesaikan urusan Porseni, kira-kira pukul dua siang, aku langsung pergi kel kantor polisi untuk segera besuk Dilan.

Sore hari
Wakti itu tanggal 22 Desember 1990, sekitar pukul tiga sore, aku dan Dilan berdua naik motor menyusuri jalan Buahbatu untuk mengantar aku pulang. (Hal.28)
Sorenya, kira kira pukul lima, wati nelpon menggunakan telepon umum, katanya dia lagi berdua dengan Piyan di warung mie kocok Mang Dadeng. (Hal.40)
Menjelang magrib, kami pulang, yang menyetir mobil adalah ayahku karena bang Fariz pulang ke kosannya dengan memakai motornya. (Hal.135)

Malam hari
Malam ini, Minggu, tanggal 25 Januari 2015, pukul 22:19 Waktu Indonesia bagian Barat dan sepi, aku sedang di kamarku, menikmati kpoi susu, setelah tadi baru selesaishalat isya, ... (Hal.13)
Malamnya, aku meras risau lagi. Aku takut Dilan dipecat. Perasaanku diliputi oleh rasa putus asa. Tidak tahu apa yang harus kulakukan dan merasa kewalahan oleh ketidak berdayaanku sendiri. (Hal.58)
Malam itu, sebagaimana biasanya, jalanan nampak lenggang. Kami melaju dengan kecepatan yang lambat di dalam dua barisan. (Hal.133)
Pukul delapan malam, aku bangun. Bumi rasanya sepi sekali. (Hal.139)

Suasana
Bab 1 : Aku
Senang
“Habis itu, aku cuma bisa tersenyum” (Hal.16)

Bab 2 : Hari Jadi
Senang
Itu adalah benar-benar hari yang cukup indah bagiku. (Hal.33)
Kemudian, Dilan menyentuhkan ujung moncong tangannya itu ke ujung moncong tangan kananku untuk membuat gerakan seperti sedang melakukan ciuman.
Aku ketawa dan dia juga. (Hal.38)

Bab 3 : Cerita Dilan
Senang
Serius, hari itu aku merasa terhibur oleh cerita-cerita mereka tentang masalalu Dilan. (Hal.43)

Cemas
Aku langsung merasa risau oleh karena memikirkan hal itu karena bis ku bayangkan bagaimana seandainya kalau Dilan benar benar dipecat,... (Hal.41)
Bab 4 : Dikeroyok Agen Cia
Menegangkan
“Sama siapa?” Kutanya Dilan.
“Agen CIA,” Jawab Dilan asal.
“Aku serius!” Kataku nyaris seperti membentak

Bab 5 : Malam penaklukan

Bab 6 : Tante Anis
Bab 7 : Dilan membalas
Bab 8 : Yugo dan Beni
Bab 9 : Setan Yugo
Bab 10 : Pengakuan
Bab 11 : Ibu Anhar
Bab 12 : Porseni
Bab 13 : Besuk Dilan
Bab 14 : Pak Dedi
Bab 15 : Pernyataanku
Bab 16 : Tahun Baru
Bab 17 : Dilan pamit
Bab 18 : Puisi
Bab 19 : Akew
Bab 20 : Putus
Bab 21 : Tanpa Dilan
Bab 22 : Bertemu Dilan
Bab 23 : Repormasi
Bab 24 : Aku sekarang


Watak
Analitik
Dramatik
Milea : Memiliki karakter setia, khawatiran dan emosian.
“Ikuti mauku!” Dilan diam memandangku
“Ikuti mauku, jangan nyerang atau kita putus!!!” Kataku. (Hal.147)

Dilan : Memiliki karakter yang humoris, romantis, bandel/ nakal dan pintar.
“Malahan, kalau kamu ninggalin aku, aku gak bisa apa-apa” Kata Dilan.
Aku diam
“Bisaku cuma mencintaimu,” katanya tersenyum. (Hal.237)

Beni : Memiliki karakter yang ikhlas
“Itu pacarmu ?” Tanya Beni sambil tersenyum
“Cakep gak ?” Aku malah balik nanya
“Pacarmu ?”
“Iya”
“Oh, pergi dulu ya,”
“Hati-hati”
“Selamat ya, hehe”
“Makasih” Aku tersenyum. (Hal.167)

Yugo : Memiliki karater yang bertingkah semaunya dan tidak   tau diri.
“Yugo senang bertemu dengan kamu”
“ini mau nonton apa mau ngobrol ?” Tanyaku
“Yugo lebih suka ngobrol sama kamu” Lalu, ia kalungkan tangan kirinya di leherku. (Hal.173)

Bang Fariz : Memiliki karakter yang menjaga rahasia seseorang             dan menepati janjinya.
“Kalau Bang Fariz tetap bilang, Bang Fariz gak boleh datang lagi ke rumah Lia”.
“Iya” Katanya
“Janji ?”
“Iya”. (Hal.125)

Ibu Milea : Memiliki karakter yang sangat baik, mengerti perasaan orang lain dan sangat peduli.
“Jangan pulang malam,” Kata Ibu
“Siap Bu,”  Kujawab. (Hal.253)

Bunda Dilan : Memiliki karakter yang baik, tegas, humoris, mengetahui perasaan orang lain dan sangat peduli.
“Ngejelasinnya gimana ? anakku harus ngaku dia yang salah?” Tanya Bunda
“Ya, gak usah bilang gitu. Yaaa, gimana ya, pokoknya bilang kalau Anhar gak salah aja.”
“Ah pusing kali ngomong sama Ibu ini” (Hal.208)


Sudut pandang
Cara pengarang menempatkan dirinya sebagai Milea atau pelau utama (Aku)

Majas
Ya, aku adalah milea, Milea Adnan Husain, yang sudah resmi menjadi pacar Dilan,...
Ya, aku adalah milea, Milea Adnan Husain, pacar Dilan, dan menginginka yang terbaik buat Dilan,...
Ya, aku adalah milea, Milea Adnan Husain, pacar Dilan, dan berhak melarang Dilan melakukan hal-hal yang akan beresiko buruk pada dirinya! (Hal.59)

Bumi rasanya sepi sekali. (Hal.139)

Amanat 
Penulis mencoba memberitahukan kepada pembaca bahwa dalam hidup, tidak semua cerita cinta harus berakhir dengan kebahagiaan. Karena terkadang, sesuatu yang berakhir tidak sesuai dengan harapan kita akan menciptakan kesan tersendiri, meninggalkan kesedihan dan kerinduan akan masa lalu. Novel ini juga mengajarkan kita untuk keluar dari belenggu masa lalu, tanpa harus melupakan semua kenangannya. Karena bagaimanapun juga, masa lalu itu akan tetap menjadi bagian dari hidup kita.

penulis : Fikri Nursyawali

Comments